Back to detail
Aku Membangun Kebun Binatang Suci di Dunia Lain
Chapter 13 of 73

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 135 min read1.008 words

Bab 13: Kekuatan Monster (3)

"Demi para dewa..." gumam Aurora, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pipinya pucat, tetapi matanya bersinar terang.

Clavor tersenyum lebih lebar dari yang pernah Lukas lihat sebelumnya.

"Selanjutnya," katanya, dan suaranya kini penuh semangat, dipenuhi dengan antusiasme yang nyaris tidak tertahan.

Kali ini, sendok.

Lukas memegang benda itu hanya dengan satu tangan. Bahannya terasa dingin di kulitnya, lebih berat dari kayu, tetapi tetap terasa ringan secara mengejutkan.

Ia bisa merasakan tekstur kasarnya, keausan di sepanjang gagang tempat seseorang telah menggenggamnya berkali-kali sebelumnya.

*'Tampaknya lebih kokoh dari kayu.'*

Dia meremas.

Sendok itu bengkok.

Bahannya merintih di bawah tekanan, suara berderit tajam bergema di seluruh ruangan, dan kemudian sendok itu... berubah bentuk.

Gagangnya bengkok pada sudut yang tidak wajar, dan cekungannya remuk ke dalam seolah-olah dipukul palu.

Lukas melepaskannya.

Sendok itu jatuh ke lantai dengan bunyi denting logam, bengkok dan tidak bisa dikenali.

Aurora tidak berkata apa-apa.

Ia hanya mengatupkan bibirnya, mata violetnya terpaku pada alat makan yang cacat itu.

Barang ketiga, potongan kulit tebal.

Lukas meraih kulit itu dengan kedua tangan.

Terasa lembut saat disentuh, lebih lembut dari yang ia duga, tetapi keras dan elastis. Dia menarik.

Kulit itu robek rapi menjadi dua dengan suara sobekan kering, seolah-olah itu kain biasa, bukan material setingkat baju zirah.

Seratnya terpisah rapi, dan Lukas mendapati dirinya memegang satu potong di masing-masing tangan, berkedip kebingungan.

*'Itu juga mudah.'*

Keempat, bola kayu padat.

Lukas memegangnya dengan kedua tangan, jari-jarinya nyaris bertemu di sekeliling lingkarannya.

Kayunya halus dan dipoles, bebas dari retakan atau cacat.

Dia meremas.

Bola itu melawan sejenak.

Sedetik.

Mungkin dua detik.

Lalu retak.

Sebuah garis tipis muncul di tengah.

Lalu satu lagi.

Lalu satu lagi.

Dan kemudian bola itu meledak menjadi serpihan, melepaskan awan serbuk gergaji ke udara yang membuat Lukas bersin.

"Hatchiii!"

Aurora menutup mulutnya agar tidak tertawa.

Kelima dan terakhir, batang besi kecil.

Lukas melihat benda di tangannya.

Itu yang terberat dari semuanya. Ia bisa merasakan beratnya menarik lengannya ke bawah, namun tetap tidak sulit dipegang.

Hanya... lebih berat.

*'Besi padat.'*

*'Coba lihat.'*

Dia mencengkeram batang itu dengan kedua tangan, jari-jarinya yang mungil melingkari logam dingin.

Dia meremas perlahan.

Kali ini, sedikit lebih sulit.

Ia merasakan perlawanan besi terhadap telapak tangannya, kekerasan material yang menolak menyerah.

*'Menarik...'*

Dia meremas lebih keras.

Batang itu mulai berubah bentuk.

Prosesnya lambat.

Jauh lebih lambat dibanding dengan benda-benda lain.

Besi itu merintih, berderit seperti makhluk terluka, dan perlahan, sangat perlahan, mulai bengkok di bagian tengah.

Awalnya hanya beberapa derajat.

Lalu lebih banyak. Lalu lebih banyak.

Ketika Lukas akhirnya melepaskan, batang itu bengkok, melengkung pada sudut hampir empat puluh lima derajat.

Bekas lekukan dalam tertinggal di logam itu, sangat cocok dengan ukuran jari-jarinya yang mungil.

Seolah-olah besi itu telah menjadi tanah liat di tangannya.

Ruangan menjadi hening total.

Lukas melihat batang bengkok di tangannya.

Lalu pada puing-puing yang berserakan di lantai.

Wadah kayu yang hancur.

Sendok yang bengkok.

Serpihan dari bola kayu.

Kulit yang robek.

Lalu dia menatap orang tuanya.

Clavor berdiri tak bergerak, matanya terpaku pada benda-benda yang hancur.

Wajahnya menunjukkan ekspresi yang belum pernah Lukas lihat sebelumnya.

Bukan sekadar bangga. Bukan sekadar terkejut. Sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang mendekati kekaguman.

Aurora pucat, tetapi mata violetnya menyala dengan emosi keibuan yang membara.

"Dia benar-benar memiliki kekuatan mengerikan..." kata Clavor akhirnya, suaranya rendah, hampir berbisik.

"Ini tidak normal. Aku belum pernah melihat yang seperti ini."

Dia mencondongkan tubuh ke depan, meletakkan siku di lututnya, matanya terpaku pada Lukas.

"Mungkin ini adalah anugerahnya. Sesuatu yang bawaan yang terbangun lebih awal. Aku pernah mendengar desas-desus tentang hal seperti ini terjadi sebelumnya, tapi aku tidak pernah percaya itu benar. Aku selalu menganggap itu cerita kedai minuman, kebohongan yang dibuat oleh pemabuk yang mencoba saling mengesankan."

Dia menggelengkan kepala, senyum tidak percaya di bibirnya.

"Tapi ini dia.

Tepat di depanku.

Putraku."

Aurora bangkit berdiri, lututnya berderit karena gerakan mendadak.

Dia bergegas menghampiri Lukas dan menggendongnya, menekannya erat ke dadanya seolah-olah dia bisa lenyap jika dia tidak memegangnya cukup kuat.

"Lukas, kamu baik-baik saja?" tanyanya, suaranya bergetar.

Tangannya bergerak ke seluruh tubuhnya, memeriksa luka atau serpihan yang tertancap di kulitnya.

"Kamu tidak melukai dirimu sendiri, kan? Serpihannya tidak melukaimu? Apakah tanganmu sakit?"

Lukas hanya berkedip, melihat dari balik bahu Aurora ke puing-puing yang berserakan di lantai.

*'Aku juga tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhku.'*

*'Tapi... ini luar biasa.'*

Dia merasakan kegembiraan membangun di dalam dirinya.

Sensasi kesemutan yang dimulai dari ujung jarinya dan menyebar ke lengannya, dadanya, dan hingga ke kepalanya.

Itu bukan rasa takut. Bukan kebingungan.

Itu adalah rasa ingin tahu.

*'Kekuatan mengerikan ini...'*

Pikirannya melayang kembali ke semut yang telah menghabiskan begitu banyak waktu bersamanya.

Tilbo.

Makhluk hitam mungil yang muncul setiap hari.

Yang menghabiskan berjam-jam di tubuhnya.

Yang makan di dadanya dan membersihkan antenanya di dagunya.

*'Tilbo... itu kamu, kan?'*

*'Hubungan itu. Energi yang membanjiri tubuhku.'*

*'Apakah kamu yang melakukan ini?'*

Dia tidak punya jawaban.

Hanya naluri.

Clavor berdiri, lututnya berbunyi, dan meletakkan tangan di bahu Aurora.

Jari-jarinya cukup besar untuk menutupi hampir seluruh bahunya, namun sentuhannya lembut.

"Kita harus hati-hati," katanya, suaranya dalam dan serius.

"Kita perlu melatih ini perlahan. Dia tidak bisa sembarangan meremas benda tanpa sengaja. Dia bisa melukai dirinya sendiri. Dia bisa melukai orang lain."

Aurora mengangguk, wajahnya masih pucat.

"Aku tahu."

"Tapi..."

Clavor menatap Lukas lagi, dan senyum bangga itu kembali ke wajahnya, mencerahkan fitur tegasnya.

"Putra kita akan menjadi luar biasa. Seorang jenius sejati."

Dia mencondongkan tubuh ke depan dan mencium kening Lukas.

Gestur yang langka.

Begitu langka sehingga Aurora mengangkat alisnya karena terkejut.

"Kamu akan melangkah jauh, kecil. Sangat jauh."

Lukas, masih dalam pelukan ibunya, hanya tersenyum dalam hati.

*'Menjadi kuat bukanlah sesuatu yang pernah kuinginkan.'*

*'Di kehidupan sebelumnya, yang aku inginkan hanyalah mempelajari hewan. Mengamati mereka. Memahami mereka. Melindungi mereka.'*

*'Tapi kekuatan ini...'*

Dia menunduk melihat tangannya sendiri.

Kecil. Gemuk.

Lesung pipit di buku jari.

Tangan yang telah menghancurkan kayu dan membengkokkan besi.

*'...pasti menarik.'*

Di luar, matahari telah sepenuhnya terbit, dan burung-burung bernyanyi di pepohonan sekitar mansion.

Hari yang baru dimulai.

Dan Lukas Dmond, bayi berusia dua setengah bulan dengan kekuatan raksasa dan pikiran orang dewasa, tidak sabar menunggu untuk melihat apa yang masa depan sediakan baginya.

— End of Chapter 13
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter

Chapter Comments Chapter 13 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 13. Please respect spoilers from other chapters.