Back to detail
Reinkarnasi: Dimanja Sang Tuan
Chapter 1 of 27

Theme

Text Size

Typeface

Read in

IDEN
Chapter 012 min read547 words

Bab 1 - 1 Prolog

Bab 1: Prolog

Kediaman Pangeran Mahkota, ruang bawah tanah.

Ruang bawah tanah yang lembap itu dipenuhi bau apek dan amis darah yang menusuk di udara.

“Permaisuri Mahkota, jangan salahkan hamba ini, hamba ini hanya menjalankan perintah, hehehe…” disertai tawa tajam dan menyeramkan.

Pembicara adalah seorang kurcaci bongkok, wajahnya sangat jelek, bibirnya melengkung, memegang pisau kecil yang berkilau sambil menatap Situtu Xueer yang dipaku di dinding.

Dia adalah Sipir Penjara, dan Pangeran Mahkota secara khusus memerintahkan padanya untuk “merawat dengan baik” Permaisuri Mahkota.

Dahulu ia dijuluki “Yang Membuat Hantu Gemetar” di Dunia Pengembara, terkenal dengan keahlian pisau yang nyaris ilahi, apalagi dalam seni penyiksaan. Ia bisa menguliti orang hidup-hidup sampai tinggal tulangnya, namun tak membiarkan mereka benar-benar hidup atau mati.

...

Pria ini memang kejam, wajahnya seperti hantu, menyimpan kebencian pada semua orang. Saat terjadi pembantaian, ia bertemu Pangeran Mahkota yang sedang mengembara dan direkrut sebagai alat pembunuhnya.

Situ Xueer tak pernah menyangka bahwa suami yang dulu sangat mencintainya akan dengan kejam menjatuhkan hukuman pengulitan kepadanya, membuatnya bergantung antara neraka dan dunia, menanggung siksaan dikuliti hidup-hidup setiap hari.

Untuk apa semua ini? Situ Xueer tak pernah mengerti mengapa orang yang paling dicintainya memperlakukannya dengan kebinatangan seperti ini, ingin membunuhnya. Kenapa tidak menamatkan penderitaannya dengan kematian yang cepat?

“Ah…” Membayangkan derita yang menusuk jiwa dan raga, Situ Xueer mengeluarkan teriakan menyayat, “Zhang Ruixuan, kenapa kau memperlakukanku seperti ini, kenapa? Kenapa?”

Kurcaci itu menengadah memandang wanita di dinding, “Hehehe… Wanita bodoh, Pangeran Mahkota sudah lama tidak mencintaimu lagi, dia melirik adikmu yang manis itu. Kau menjadi Permaisuri Mahkota, jadi sudah ada yang lama ingin melihatmu mati.”

“Kalau begitu kenapa dia tidak membunuhku langsung daripada menyiksaku seperti ini? Aku tidak percaya, kau bohong padaku, bohong padaku…” Mengingat laki-laki yang dulu memeluknya setiap malam sebelum tidur, Situ Xueer meraung histeris.

“Itu soal adikmu tercinta. Seberapa benci dia sampai memaksa Pangeran Mahkota memerintahkan hukuman ‘seribu sayatan’ untukmu? Hehehe… Hatinya lebih beracun daripadaku.”

“Tidak mungkin, Qinger tidak akan melakukan ini padaku, dia tidak akan… kau bohong, kau bohong…” Tangisan Situ Xueer terus bercampur teriakan.

“Hari ini, orang tua ini sedang dermawan, membiarkanmu mati sambil tercerahkan, menjadi arwah yang lebih bijak. Wanita bodoh sepertimu pantas dibunuh oleh orang lain.”

Saat itu langkah kaki mendekat dari luar pintu, seorang dayang mengumumkan dengan suara nyaring, “Nona Kedua Situ telah datang.”

Seorang wanita cantik memukau melangkah masuk dengan anggun, diikuti beberapa dayang…

Kurcaci itu berbalik, menyeret langkahnya yang pincang, ia sempoyongan mendekati Situ Qinger, membungkuk sambil tersenyum menjilat, “Hamba memberi hormat kepada Nona Kedua, hamba hari ini telah melaksanakan siksaan.”

“Hm, kau boleh pergi sekarang. Aku ingin bicara dengan saudara perempuanku.” Situ Qinger melambaikan tangan, suaranya halus.

“Baik, hamba pamit.” Setelah berkata, kurcaci itu membungkuk lalu keluar, bahkan menutup pintu dari belakangnya.

“Sis, adikmu sudah datang menjenguk,” kata Situ Qinger dengan nada congkak, menatap perempuan di dinding yang wajahnya sudah tak lagi menyerupai manusia.

“Qinger, apa yang barusan dia katakan tidak benar, kan?”

“Oh! Dia bilang apa? Apakah dia mengatakan Pangeran Mahkota memerintahkan kematianmu, atau dia bilang adikmu yang meminta Pangeran Mahkota mengirimmu ke hukuman ‘seribu sayatan’?” Bibir Situ Qinger melengkung menampilkan senyum kemenangan, sikapnya berubah total dari sebelumnya yang tunduk menjadi angkuh penuh kemenangan.

“Situ Qinger, aku sangat mempercayaimu, menganggapmu seperti saudara sendiri, kenapa kau melakukan ini padaku? Kenapa? Kenapa?” Mata Situ Xueer meneteskan air mata darah.

— End of Chapter 1
Enjoyed this chapter?
Rate this chapter
Previous
This is the first chapter

Chapter Comments Chapter 1 · this chapter only

0 comments
A
Comments here only show on Chapter 1. Please respect spoilers from other chapters.