Bab 7: Metode Berburu Si Pemalas (2)
"Apakah ini tempatnya?"
Seorang pria tua muncul di kaki gunung yang diselimuti salju.
Namanya Bieunggaek.
Seorang pencuri legendaris yang dikenal sebagai Hantu Pencuri Tanpa Bayang, ia mampir ke Keluarga Jin seperti biasa dan mendengar sebuah cerita menarik.
—Kemana si pemalas itu pergi? Kudengar sekarang dia dipanggil Tuan Muda Malas atau semacamnya?
—Ah, Sohyun lagi belajar bela diri sekarang.
—Bela diri? Si pemalas itu belajar bela diri? Dari siapa?
—Ehm...
Saat Jin Seomok tiba-tiba terdiam, Bieunggaek mengerutkan kening.
—Katakan saja! Dari siapa dia belajar bela diri?
—Tetua Kang.
—Tetua Kang? Jangan-jangan... Kang Cheon!?
—Betul.
Melihat wajah Jin Seomok sedikit memerah seperti malu, Bieunggaek tak bisa menahan rasa kagetnya.
Siapa Kang Cheon?
Bukankah dia kutu buku keras kepala yang bersaing memperebutkan gelar yang paling penuh harga diri di bawah langit dan bahkan hingga tujuh puluh tahun belum juga mendapat murid?
Kang Cheon yang seperti itu akhirnya mendapatkan murid.
Dan muridnya adalah putra sulung Keluarga Jin, si pemalas yang dijuluki Tuan Muda Malas.
"Hehe... aku tak boleh melewatkan tontonan bagus ini."
Kesempatan emas untuk mengolok-olok Kang Cheon, yang biasanya mengejeknya dengan julukan 'ayam Silkie yang cepat berlari'.
Bieunggaek memanjat gunung tempat Kang Cheon dan Jin Sohyun dikabarkan berada.
Di tengah perjalanan, Bieunggaek menyaksikan pemandangan aneh.
"...Itu apa?"
Siwuush—!
Sebuah belati kayu yang melesat melintasi langit menancap di leher seekor rusa yang sedang berdiri tenang.
Saat rusa itu mati seketika dan roboh, dua serigala muncul dari sela-sela pohon yang tertutup salju seolah sedang menunggu.
Serigala-serigala itu, saat melihat Bieunggaek, menundukkan kepala lalu lenyap, masing-masing membawa potongan rusa.
"Apa aku yang salah lihat? Apa makhluk-makhluk itu baru saja membungkuk padaku?"
Menganggapnya konyol, Bieunggaek mengeluarkan tawa kosong.
"Hehe...! Itu tidak mungkin."
Bagaimana mungkin seekor binatang biasa menundukkan kepala dan memberi salam seperti manusia?
Tapi apa itu lemparan belati kayu terbang?
"Kang Cheon?"
Satu-satunya orang yang mampu melempar belati kayu terbang dari jarak seperti itu adalah Kang Cheon, pencipta Teknik Pedang Terbang.
"Apa lagi keanehan yang kau lakukan sekarang! Kang Cheon!"
Rasa ingin tahunya terpicu, Bieunggaek meloncat dengan tangan di belakang punggung.
Ia menendang batang pohon dengan gerakan seperti hantu.
Kecepatannya begitu tinggi sampai orang biasa takkan bisa mengikutinya dengan mata.
Setelah menyebrangi gunung sebentar, ia menghentikan langkah.
"Hmm?"
Saat ia mengikuti jejak serigala yang membawa rusa, pemandangan yang lebih aneh muncul.
"Nurongi nomor 3 dan nomor 4! Kerja bagus!"
Anak laki-laki yang menerima rusa dari serigala itu segera membelah rusa di tempat itu lalu memotong paha belakangnya dan melemparkannya pada kedua serigala itu.
Lalu, bukankah kedua serigala itu menundukkan kepala dan lenyap, masing-masing membawa pahanya sendiri?
"Apa-apaan ini..."
Bieunggaek yang mengamati dari atas pohon melihat serigala lain yang membawa seekor kelinci dari entah mana.
"Lebih kecil dari yang kukira... Tsk! Kau ambil saja ini."
Saat bocah itu melambaikan tangan dengan nada seperti dermawan, serigala itu girang dan menggoyangkan pantatnya.
'Itu... benar-benar serigala?'
Setelah mengamati bocah itu dan serigala-serigalanya beberapa saat, Bieunggaek menemukan fakta mengejutkan.
Itu adalah cara berburu menakjubkan yang diperagakan bocah itu dan serigala-serigalanya.
"Seratus dua puluh li ke barat?"
Ketika bocah yang memperkirakan jarak itu melempar belati kayu terbang, serigala-serigala yang mengikuti lintasan belati itu membawa kembali buruannya.
'Metode berburu aneh tapi hebat!'
"Nurongi nomor 5 lumayan cepat, ya?"
Bocah itu menggaruk perut seolah puas, lalu berbaring di batu dan menguap.
Tak lama kemudian, seekor serigala membawa kembali hasil buruan, dan bocah itu membagi daging yang dibawa serigala itu secara merata.
Saat proses ini berulang beberapa kali, potongan-potongan daging menumpuk perlahan di belakang bocah itu, dan serigala-serigala juga bisa kenyang.
"Cukup untuk hari ini. Begini terus, semua rusa dan kelinci akan habis. Bebas!"
Pada kata 'bebas', serigala-serigala itu menundukkan kepala dan lenyap.
Bocah itu mengikat daging yang terkumpul rapat-rapat ke dalam karung besar lalu mendaki gunung.
"Hmph hmph hmph—!"
Melihat bocah itu mendaki sambil bersenandung, Bieunggaek berpikir.
'Jadi bocah itu Jin Sohyun!'
Menyadari bahwa bocah yang ditemuinya setelah sekian lama adalah murid baru Kang Cheon dan putra sulung Keluarga Jin, Jin Sohyun, Bieunggaek diam-diam mengikutinya.
"Hmm..."
Sudah berapa lama ia berjalan?
Jin Sohyun yang mendaki gunung tiba-tiba menghentikan langkah lalu berjalan, mengubah arah ke sana-sini.
'Apa yang dilakukannya?'
Jin Sohyun yang mondar-mandir berhenti di depan sebuah menara batu.
Saat ia mengangkat sebuah batu dari menara itu, sebuah lubang tersembunyi terbuka di bawahnya, dan Jin Sohyun memasukkan sebagian daging ke dalam lubang itu.
"Nah, seharusnya cukup."
Jin Sohyun yang mengusap jari-jarinya seolah puas setelah menyimpan daging, tiba-tiba menoleh memandang langit.
'Hah!'
Bieunggaek yang kaget langsung bersembunyi di balik pohon.
"Salah lihat, ya?"
Jin Sohyun yang menoleh lalu mulai bersenandung lagi dan melanjutkan mendaki gunung.
Sementara itu, Bieunggaek yang bersembunyi di balik pohon baru bisa menenangkan jantungnya yang berdegup kencang.
'Apakah bocah itu sadar akan kehadiranku!? Ti-tidak mungkin!'
Hantu Pencuri Tanpa Bayang, Bieunggaek.
Ia yang belum pernah tertangkap sekali pun saat mencuri, tak mungkin kehadirannya dapat dideteksi oleh bocah yang baru berusia dua belas tahun.
'Pasti kebetulan.'
Bieunggaek menundukkan pandangannya dengan hati-hati.
Tapi Jin Sohyun tidak ada di sana.
"Ke mana dia?"
Bieunggaek turun dari pohon untuk mencari jejak Jin Sohyun.
"Halo."
"Eek!"
Begitu saja, saat ia baru saja turun ke tanah, Jin Sohyun muncul di belakang Bieunggaek.
"Kau... kau... apa kau!!"
"Aku Sohyun. Lama tidak bertemu, Tetua Bi."
Berbeda dengan sikapnya pada Kang Cheon, Jin Sohyun yang beberapa kali bertemu Bieunggaek saat masih kecil langsung mengenalinya.
"Bagaimana kau... menemukanku?"
Bieunggaek berkedip dengan wajah terbelalak.
"Kau mengikutiku dari tadi."
Dengan jawaban Jin Sohyun yang datar, mulut Bieunggaek ternganga selebar mungkin.
'Anak kecil ini membaca keberadaanku!? Tidak mungkin!'
Bieunggaek yang sudah beberapa kali terkejut itu mengulurkan tangan ke arah Jin Sohyun.
Namun pada saat itu, sebuah pedang terbang tajam melesat dan menancap di tempat yang tadi ia berdiri.
"Kang Cheon!"
Bieunggaek yang nyaris terkena pedang terbang itu menatap marah, dan Kang Cheon yang entah kapan muncul di hadapan mereka, mendecakkan lidah seperti kecewa.
"Tsk! Ternyata Bieunggaek? Kupikir itu hewan liar."
"Kau bajingan! Berani-beraninya mengangkat murid tanpa memberitahuku!?"
"Kalian ngomong apa? Aku harus melapor padamu tiap kali mau mengambil murid?"
"Sepuluh tahun lalu kau meratap karena tak punya murid yang cocok, sekarang kau menipuku!? Sejak kapan! Hah? Apa kau memang bermaksud mengincar anak Keluarga Jin sejak dia lahir! Makanya sampai sekarang kau belum ambil murid, kan!?"
"Apa omongmu itu?"
Sambil cemberut seolah mengatakan omongan apa itu, Kang Cheon diserang Bieunggaek yang menunjuk ke arah Jin Sohyun dan memarahinya.
"Kapan kau mulai mengajari Jin Sohyun! Beberapa tahun lalu aku tak merasakan energi apa pun dari bocah ini!"
"Hmm... Sohyun, sudah berapa lama kau jadi muridku?"
"Kurang lebih sepuluh bulan, kan?"
"Se-sepuluh bulan!?"
Bieunggaek yang menatap bolak-balik antara Jin Sohyun dan Kang Cheon, mendadak kalang kabut dengan wajah memerah.
"Berani-beraninya kalian mempermainkanku!?"
"Haa..."
Kang Cheon yang mulai sakit kepala memberi isyarat pada Jin Sohyun untuk naik lebih dulu.
"Ya."
Merasa terseret ke tengah konflik yang merepotkan, Jin Sohyun cepat-cepat naik gunung.
Lalu, Bieunggaek bergegas mengejarnya seolah ingin menarik kerahnya.
"Kalau memang mau seperti ini, jangan dulu kau meratap tak ada yang pantas jadi muridmu!"
Bieunggaek yang tadinya penuh antusias mengejek Kang Cheon kini merasa dikhianati berat.
Namun Kang Cheon, yang semestinya kini sedang menertawakan, malah bicara dengan nada serius.
"Bieunggaek."
"Apa! Kalau kau punya mulut, keluarkan alasanmu!"
"Sudah sepuluh bulan."
"Apa yang sudah sepuluh bulan!"
"Sejak bocah itu jadi muridku. Baru sepuluh bulan."
"Berhenti dengan kebohongan itu! Kau kira aku akan percaya..."
Bieunggaek terdiam.
Meskipun ia tak pernah akur sekalipun dengan Kang Cheon, hubungan mereka sudah berlangsung cukup lama.
Karena itu, keduanya sudah mencapai titik di mana mereka bisa saling mengerti maksud hanya dari melihat mata masing-masing.
Mata Kang Cheon yang dipandangi Bieunggaek kali ini tulus.
"Tidak... mungkin..."
Ia bergumam kebingungan, lalu Kang Cheon memberi isyarat untuk berjalan lebih jauh ke atas gunung dan berkata.
"Ayo jalan sebentar."
***
"‘Tubuh Bela Diri Surgawi’?"
"Kau juga melihatnya, jadi pasti tahu, kan? Jin Sohyun memiliki Tubuh Bela Diri Surgawi."
"Tapi Jin Sohyun kan nomor satu di Shanxi... bukan, nomor satu pemalas di bawah langit, kan? Kudengar gelarnya Tuan Muda Malas?"
"Iya. Anak itu memang pemalas. Tapi dia pemalas yang terlahir dengan Tubuh Bela Diri Surgawi."
"Hahahaha! Apa-apaan ini... ini bukan lelucon dari langit juga..."
Meski Bieunggaek bergumam mengejek, wajah Kang Cheon tak bisa tertawa. Bahkan, wajahnya makin kelabu.
"Tapi kenapa mukamu begitu? Bukankah bagus kalau muridmu punya Tubuh Bela Diri Surgawi?"
"Begini... masalahnya bocah itu belajar terlalu cepat."
"Belajar cepat? Secepat apa?"
"Kau juga melihatnya. Teknik Pedang Terbang Jin Sohyun!"
"Tentu saja..."
Teknik Pedang Terbang Jin Sohyun yang disaksikan saat naik gunung benar-benar menakjubkan.
Begitu hebat sampai Bieunggaek, yang lama mengenal Kang Cheon, yakin pedang terbang yang melintasi langit itu memang milik Kang Cheon.
"Anak itu menyelesaikan tahap pertama Sepuluh Pedang Langit Terbang, Aliran Angin, hanya dalam sepuluh bulan. Sekarang dia terus mendesak agar kuteruskam ke Kilatan Petir."
Bulan lalu Kang Cheon nyaris gila karena Jin Sohyun yang sering datang dan mencoba membujuknya untuk pindah ke tahap berikutnya.
—Guru! Lanjut ke Kilatan Petir sekarang.
—Dasar bocah, kau harus menyelesaikan Aliran Angin dulu sebelum lanjut, kan?
—Kalau begitu katakan bagaimana aku menyelesaikan Aliran Angin.
—Itu... ehm... u-ulang! Ulang lagi dulu! Tak ada yang menggantikan dasar yang kuat!
—Hmm...
Jin Sohyun menatap Kang Cheon penuh curiga lalu berpaling.
Tatapan itu belakangan makin terang-terangan, sampai Kang Cheon takut menatap muridnya.
"Apa masalahnya? Kan kau bisa ajari tahap berikutnya saja?"
"Aku tak bisa! Anak itu hanya butuh sepuluh bulan untuk mempelajari Aliran Angin. Kalau dia menyelesaikan Kilatan Petir dalam kurang dari setahun juga... bocah itu akan ribut mau turun gunung dalam kurang dari lima tahun!"
Bieunggaek yang mendengar perjanjian antara Kang Cheon dan Jin Seomok malah tertawa sesuka hati.
"Itu karena Sepuluh Pedang Langit Terbangmu payah! Seberapa buruknya sampai-sampai tak butuh sepuluh tahun untuk menguasai sepenuhnya suatu bela diri!?"
"Gerakanmu juga tak beda!"
"Tentu... eh, sekarang kupikir lagi..."
Bieunggaek mengingat gaya berjalan Jin Sohyun.
Anehnya, gaya berjalan Jin Sohyun, yang jadi ahli Teknik Pedang Terbang, tak beda dari bocah-bocah sembrono yang biasa terlihat di lingkungan.
Itu berarti...
"Kau, kau bahkan tak mengajarkan teknik langkah pada muridmu?"
"Aku tak bisa mengajarkannya!"
"Apakah karena teknik langkahmu payah?"
"Dasar Teknik Pedang Terbang adalah langkah cepat. Selevelku tak perlu bergerak saat melakukan langkah, tapi sampai saat itu, kau harus menciptakan jarak dari lawan!"
Seolah ingin membuktikan teknik langkahnya hebat, Kang Cheon menggerakkan tubuhnya.
Bieunggaek terdiam melihat Kang Cheon bergerak, menyisakan beberapa bayangan setelahnya dalam sekejap.
'Aku tak mau mengakuinya, tapi teknik gerakannya memang berguna.'
Teknik gerak Kang Cheon, Langkah Aliran Surgawi, adalah teknik gerak yang rapi tanpa gerakan berlebihan.
"Tapi kenapa kau tak mengajarkan itu padanya?"
"Karena kalau bocah itu belajar teknik gerak, dia pasti kabur!"
"Ah..."
Kali ini bahkan Bieunggaek tak punya bantahan.
Benar juga.
Alasan Kang Cheon tak mengajarkan teknik gerak pada Jin Sohyun adalah karena khawatir ia akan lari.
Kalau Jin Sohyun, yang terlahir dengan Tubuh Bela Diri Surgawi, belajar teknik gerak dan memutuskan melarikan diri, tak ada yang bisa menangkapnya dengan kecepatan biasa.
"Hmm."
Setelah merenung sebentar, Bieunggaek mengusulkan sesuatu.
"Kalau begitu bagaimana kalau kuberikan bocah itu teknik gerak guruku?"
"Apa? Kenapa aku harus mengajarkan muridku teknik gerak kepadamu!?"
"Teknik Pedang Terbangmu dan teknik gerakku punya kegunaan berbeda, dan cara bernapasnya juga tak sama. Jadi, meski dia belajar, tak akan mudah dipelajari, dan meski ia menguasainya, tak akan mudah dikuasai."
"Lalu kenapa kau mau mengajarkan teknik gerakku pada muridku yang bahkan tak cocok!"
"Kau bilang bocah Jin itu akan ribut mau turun gunung kalau begini terus, kan?"
"Hmm...!"
"Jadi gurumu ini akan bantu khusus."
Seharusnya Kang Cheon langsung melempar pedang terbang menyuruhnya diam dan pergi, tapi sekarang ia seperti mencari pegangan terakhir.
"Butuh berapa lama untuk menguasainya?"
"Setidaknya sepuluh tahun... tidak, bocah itu istimewa, jadi mungkin sekitar lima tahun."
"Benarkah?"
"Kau kira Langkah Ilahi Tanpa Bayang gurumu ini mudah!"
"Yah... hampir mati waktu kau mencuri harta Keluarga Cheon pakai Langkah Ilahi Tanpa Bayang itu."
"Kkeung...!"
"Baiklah, kupercaya kali ini. Tapi ada satu masalah."
"Masalah? Apa lagi?"
"Kau nanti akan tahu."
Melihat senyum bermakna di wajah Kang Cheon, Bieunggaek merasakan sedikit kecemasan.
Tapi itu tak masalah baginya.
"Kalau anak Jin itu melihat Langkah Ilahi Tanpa Bayang guruku, dia pasti akan memaksa agar kukajari juga."
(Akhir Bab)
Chapter Comments Chapter 7 · this chapter only
0 comments